Kamis, 26 November 2015

Tugas Ilmu Budaya Dasar Tentang Mata Pencaharian Suku



SISTEM EKONOMI DAN SISTEM  MATA PENCAHARIAAN SUKU TORAJA

DISUSUN OLEH ROLANDO
KELAS 1EB26
NPM: 26215251
UNIVERSITAS GUNADARMA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG.................................................................3
1.2 PERUMUSAN MASALAH.......................................................3
1.3 SISTEM MASALAH.................................................................3
BAB II SISTEM MATA PENCAHARIAAN SUKU TORAJA
2.1 SISTEM MATA PENCAHARIAAN SUKU TORAJA..............4
BAB IV KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA......................................................................7




BAB 1
PENDAHALUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
    
Secara kronologis, dengan kondisi alam yang kurang mendukung dan tingkat ekonomi yang rendah, remaja toraja cenderung untuk mencari penghasilan di kota dan kembali dengan membawa kebudayaan tempatnya bekerja. Kebudayaan lama warisan nenek moyang suku toraja berubah sedikit demi sedikit melalui berbagai proses modernisasi yang dibawa oleh kaum perantau tersebut. Sebagian masyarakat tetap memegang teguh prinsip budaya yang lama dan sebagian memilih beradaptasi dengan perubahan yang ada, hal inilah yang memicu pertentangan antara golongan masyarakat. Proses modernisasi ini mampu merubah kebudayaan masyarakat toraja dari segi budaya, kesenian, ekomomi, mata pencaharian, sistem religi, bahasa hingga sistem masyarakat.
Proses modernisasi yang terjadi pada masyarakat toraja ini sesuai dengan teori Ferdinand Toennies yang membedakan kelompok social menjadi 2 tipe Gemeinschaft dan Gesellschaft, dimana masyarakat toraja lama yang berinteraksi berdasar kebutuhan (Gemeinschaft) beruah menjadi berorientasi keuntungan (Gesellschaft). Analisis kualitatif ini ditunjang dengan ferifikasi oleh narasumber native toraja yang terpercaya dengan metoda wawancara.
Berbagai fenomena kebudayaan seperti perubahan system masyarakat adat menjadi masyarakat formal dengan birokrasi tertentu, komersialisasi upacara adat, dualism dalam memeluk kepercayaan, gengsi dalam berbahasa toraja, teknologi bangunan yang berbasis alam berubah menjadi teknologi konstruksi modern, dan akulturasi kesenian modern pada kesenian daerah.



 1.2 Perumusan Masalah
          1.Bagaimana sistem pencaharian suku toraja
 1.3 Tujuan
          1.Mengetahui pengaruh modernisasi masyarakat suku toraja dalam aspek mata pencaharian
          2.Untuk tugas kuliah Ilmu Budaya Dasar


Bab II
SISTEM PENCAHARIAN SUKU TORAJA
Mata Pencaharian Suku Toraja
Adanya sistem kepercayaan yang kuat, membuat masyarakat toraja mempercayai bahwa orang yang telah meninggal kembali berkumpul bersama para leluhur. Hal ini menyebabkan adanya upacara rambu solo yaitu pesta adat suka cita yang didalamnya terdapat Ma’tinggoro tedong (penyembelihan kerbau dalam jumlah besar).
Pada awalnya, kerbau yang disembelih tersebut berupa kerbau lumpur khas toraja yang kebanyakan berasal dari sumbangan kerabat orang yang meninggal. Namun, adanya pengaruh modernisasi dan juga masuknya agama baru menyebabkan banyak orang yang tidak lagi melakukan acara Ma’tinggoro tedong ini, dan hal ini menyebabkan sedikit kerabat yang menyumbangkan kerbau untuk melakukan acara tersebut.
Peluang ini dimanfaatkan oleh para peternak kerbau untuk dijadikan mata pencaharian, yaitu dengan menjual kerbau kepada orang yang ingin melakukan acara ma’tinggoro tedong, kerbau yang dijualpun bukan merupakan kerbau asli toraja, namun berasal dari sumbawa dan biasanya lebih murah. Hal ini membuktikan bahwa acara yang kelihatannya menghabiskan banyak biaya, dilain hal bisa menjadi sarana untuk saling berbagi antara orang kaya yang melaksanakan acara tersebut dengan para pedagang. Selain itu, acara ini juga dapat menambah pemasukan bagi daerah, karena upacara ini telah menjadi daya tarik bagi para wisatawan domestik ataupun mancanegara untuk datang ke tanah toraja

 
 ( pelaksanaan upacara adat rambu solo)


Dalam hal pelaksanaan acara pun kini telah mengalami kemajuan, dari biasanya pelaksanaan acara dengan bergotong royong seluruh masyarakat, dari mulai persiapan sampai ke hal-hal yang kecil. Sekarang, semua hal itu telah dilakukan oleh sebuah event organizer (EO). Hal ini menjadi sebuah peluang juga bagi para masyarakat untuk meningkatkan mata pencaharian mereka.      
Kemudian dari segi kehidupan sehari-hari, mata pencaharian masyarakat toraja juga telah mengalami banyak perubahan. Kebanyakan penduduk toraja merupakan para petani dan pedagang, namun dengan adanya modernisasi dan masuknya agama kristen dan islam menjadikan masyarakat toraja lebih memikirkan berbagai kebutuhan hidup dan tidak lagi terlalu memikirkan kegiatan acara kematian. Selain itu, semakin banyaknya pemuda yang pergi merantau keluar daerah membawa perubahan yang cukup besar juga dalam sistem ekonomi. Pemuda toraja yang pergi merantau umumnya pergi untuk memperoleh pendidikan dan juga bekerja. Perantau yang pulang ke toraja membawa budaya baru yang diterapkan di sistem perekonomian mereka. Hal ini juga menjadi bukti adanya pengaruh modernisasi terhadap sistem mata pencaharian masyarakat toraja.
Modernisasi yang juga telah mempengaruhi pendidikan masyarakat toraja menyebabkan adanya perubahan pemikiran dalam upaya meningkatkan kesejahteraan.


KESIMPULAN
Budaya adalah salah satu harta berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Perlu pemeliharaan dan kepedulian agar warisan budaya tidak semakin tergerus oleh budaya asing. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk tetap mempertahankan budaya. Seperti halnya kain tenun Toraja. Budaya tenun di Toraja telah menjadi warisan secara turun temurun, dengan tetap mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang kegiatan menenun. Sehingga, diharapkan tenun Toraja takkan hilang ditelan jaman.
Selain itu, karena tenun telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian yang berbasis budaya, maka  aktivitas tersebut sangat membantu melestarikan budaya itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

1.      BPS Kabupaten Tana Toraja. (2001). “Kabupaten Tana Toraja Dalam Angka.” BPS Kabupaten Tana Toraja 
2.      Kusumah, Gunawan. (1992). “Upacara Tradisional Daerah Sulawesi Selatan." Tidak diterbitkan.
3.      Mubyarto. (1989). “Pengantar Ekonomi Pertanian.” LP3ES. Jakarta.
4.      Supriyanto, B. (2000). “Sekitar Hukum Adat dan Hutan : Isu Masyarakat Adat Tidak Populer?” Majalah Kehutanan Indonesia. Edisi 2/XIII/1999-2000.
5.      A., Gani. (1994). “Pengembangan Sistem Pertanian Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Sumberdaya Manusia Pertanian.” Prosiding Lokakarya Nasional. PERHEPI. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar